Visitbandaaceh.com – Taman Bustanus Salatin terletak di pusat kota Banda Aceh. Tepat di depan balai Kota Banda Aceh. Konon, pada zaman kesultanan Aceh Darussalam, taman ini dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah. Saat ini, taman Bustanus Salatin sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan seni dan budaya.

Sejarah Bustanussalatin

Ilustrasi Taman Bustanussalatin (Museum Aceh)

Bustanussalatin yang artinya taman raja-raja dibangun sebagai taman kesultanan Aceh. Sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1514 M. Terletak disepanjang Krueng Daroy yang melintasi Gunongan, Pinto Khop, Kandang, hingga ke Pulau Gajah dan Mesjid Raya. Di dalamnya banyak ditumbuhi pohon-pohon buah, bunga dan sayuran yang khasiatnya bermacam-macam. Dulu luasnya hampir 1/3 kota Banda Aceh.

Beberapa bangunan yang terdapat dalam taman Bustanusslatin di bangun pada masa Sultan Iskandar Muda diantaranya, Gegunongan Menara Permata (Gunongan) yang dibangun untuk istri Sultan Iskandar Muda yang dari Pahang atau yang lebih dikenal Putro Phang. Taman Ghairah (Taman Sari) dibangun oleh Sultan Iskandar Muda dengan maksud menjadikan Bandar Aceh Darussalam sebagai Taman Firdaus. Di dalam taman ini dahulu ditanam sekitar 50 jenis tanaman bunga dan 50 jenis tanaman buah-buahan khas Aceh. Ditaman ini juga dibina beragam sarana hiburan para sultan yang hingga kini masih dapat dilihat diantaranya Krueng Darol Iski atau Krueng Daroy yang membelah taman, Gunongan, Kandang Sultan Alauddin Mughayatsyah Iskandar Tani, Patarana Sangga dan Pinto Khop yang merupakan pintu masuk ke Taman Ghairah.

Bustanussalatin erat kaitannya dengan naskah karangan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry. Naskah tersebut ditulis atas permintaan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M). Penulisannya di mulai pada tanggal 4 Maret 1638 dengan nama lengkap Bustan As-Salatin fi Zikr Al-Awwalin Wal Al-Akhirin. Naskah ini terdiri dari 7 (tujuh) bab dan 40 pasal. Naskah ini bersifat keagamaan dan sejarah.

Baca Juga  Disbudpar Aceh Gelar Festival Seni 2018 ‘Spirit Ruang Rasa Lintas Zaman’

Naskah Bustanussalatin mempunyai pengaruh besar dalam sejarah dan kesusteraan Melayu dan Aceh. Salah satu bab dari Bustanussalatin mengisahkan sejarah Aceh secara detail, termasuk silsilah para raja dan penegakan hukum pada masa kesultanan Aceh. Nuruddin Ar-Raniry juga menggambarkan kemegahan dan keindahan Dar Al-Dunya dan taman Bustanussalatin. Dari naskah ini pula diketahui segala gambaran tentang keindahan bangunan, tanaman, dan Darul Isyki (Krueng Daroy) yang terdapat dalam Bustanussalatin. Dan segala peristiwa dan perayaan yang diadakan didalam maupun di luar taman kerajaan. Seperti perayaan Idul Adha pada masa Sultan Iskandar Tsani yang gambarannya ada dalam lukisan AD Firous.  (MA)

 

Go to Source