Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Irmayani, mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen yang telah ikut mensukseskan pelaksanaan Festival Sate Matang, 30-31 Maret lalu.

Walau begitu, Irmayani mengakui banyak tantangan yang harus dihadapi bersama dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Menurutnya, jika Bireuen ingin berkonsentrasi pada promosi daerah sebagai destinasi wisata kuliner unggulan pembenahan fundamental harus dilakukan.

“Harus ada 3S1K, Siap industri kulinernya, Siap masyarakatnya, Siap Medianya dan Komitmen pemerintah setempat yang nyata,” kata Irma.

Industri kuliner yang siap naik kelas menjadi destinasi wisata hendaknya telah mampu berfikir ke arah investasi promosi, bagaimana kegiatan sejenis festival dapat dimanfaatkan secara baik untuk kegiatan jualan dan promosi.

Pemilihan dan kehadiran para pengisi stand dalam Festival Sate Matang ini memang menjadi tanggungjawab pemerintah daerah, dalam hal ini Dispora Bireuen selaku leading sector.

Namun demikian komitmen dan partisipasi aktif dari para pelaku industri kuliner adalah kunci utama. Apabila komitmen para pelaku industri lemah yang terjadi selanjutnya mereka hanya tertarik menerima order makanan dari panitia, tapi saat acara ada yang tidak hadir berjualan.

Layaknya sebuah festival makanan, pengunjung berharap ada makanan gratis. “Tapi tentu tidak selalu dan tidak semuanya, kalau semua gratis namanya khanduri bukan festival,” imbuh Irma.

Festival sejenis juga kerap dilaksanakan di Banda Aceh.

Dukungan pengunjung sangat penting, dengan berbelanja di festival meningkatkan transaksi ekonomi dan menambah semangat pedagang untuk berpartisipasi dalam kegiatan promosi.

Salah satu pedagang sate Nasruddin dari Warung Uroe Malam Awai mengklaim omsetnya mencapai Rp7 juta dalam festival ini, hal senada disampaikan Mutia dari Ikaboga Bireuen yang meraup Rp5 juta setelah berjualan selama 2 hari di festival sate matang.

Baca Juga  Disbudpar Aceh Gelar Festival Seni 2018 ‘Spirit Ruang Rasa Lintas Zaman’

“Karena itu masyarakat harus siap mendukung, jangan datang ke festival, tidak ada yang gratis, lalu pulang,” kata Irma.

Irma juga menyesalkan kekecewaan para pengujung yang telah hadir dari Banda Aceh, Lhokseumawe, Takengon dan kota-kota lainnya. Pengunjung yang sudah hadir dari jauh untuk mencicipi sajian sate matang di festival terpaksa putar haluan karna minimnya stand sate yang terisi.

“Kita sudah promosi kesana-kemari, pengunjung dengan potensi membeli hadir, tapi tidak tau mau beli apa,” sebutnya.

Menurut Irma, kondisi-kondisi ini memang biasa terjadi di lapangan, dengan koordinasi dan partisipasi aktif pemerintah setempat umumnya hal tersebut bisa teratasi.

“Penting untuk bersikap bahwa ini adalah agenda bersama, bukan hanya agenda provinsi. Ini kegiatan untuk Bireuen, yang kita harapkan bisa menjadi kegiatan tahunan yang dikelola sendiri oleh Pemkab Bireuen nantinya, jadi Bireuen bukan hanya tuan rumah,” jelas Irma.

Irmayani juga mengapresiasi para wartawan yang ikut hadir dalam kegiatan ini. Hampir 40 orang pewarta dari media lokal dan nasional menghadiri festival ini.

“Ulasan ada yang menyoroti positif acara, ada yang negatif, itu dinamika, biasa,” ujar Irma.

Menurutnya yang penting adalah wartawan siap dan bersedia mengambil peran dalam upaya menyiapkan Bireuen sebagai destinasi wisata kuliner unggulan di Aceh.

Go to Source